Berkarung Kesabaran dan Ayah Mahram

http://hariansinggalang.co.id/berkabung-kesadaran-dan-ayah-mahram/
Tanggal 25 January 2014


Antara Masjid Nabawi dan Baqi’ di Madinatul Munawarah Januari 2014. (Dok Pri Adi) 
Berkarung Kesabaran dan Ayah Mahram
SETELAH 12 TAHUN KE MEKKAH (3): 
Shofwan  BIN Abdul Karim Hussein — 
Meskipun nama di passport pada catatan-pengesahan/endorsements tertulis Shofwan Bin Abdul Karim Hussein, tetapi di label nama yang dapat digantungkan di leher, ternyata tertulis Shofwan Abdul. 
Untuk hal yang satu ini saya tidak peduli. Oleh karena waktu pembekalan sehari sebelum keberangkatan kemarin, kata-kata keramat saya dengar dari ustazd pembimbing dari biro perjalanan. Sediakan berkarung-karung kesabaran dan penuhkan hati dengan segudang keikhlasan. Kalimat ini sudah saya dengar sejak menunaikan ibadah haji pertama pada 1996 dan yang kedua 2002. Dari mulut-kemulut, saya dengar setiap tahun dari jemaah yang akan berangkat dan yang pulang dari berhaji, kalimat itu sudah menjadi lagu wajib.

Pagi, kami berkumpul di Terminal EF 2 dan Gate 3 serambi luar. Ini adalah keberangkatan internasional di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Kami bergerak lebih cepat dan sampai pukul 07.20 pagi. Kami sengaja berangkat lebih pagi meninggalkan tempat bermalam, untuk antisipasi Jakarta yang lagi kebanjiran.

Pada hal pesan biro perjalanan paling lambat pukul 08.00 semua jemaah sudah bersiap kumpul di mulut pintu masuk. Dan ini juga standart untuk penerbangan internasional mewajibkan penumpang 3 jam sebelum keberangkatan sudah di bandara. Di situlah dibagikan passport dan tiket penerbangan menurut kelompok biro perjalanan. Ada empat biro perjalanan rupanya yang bergabung menjadi satu pada Rabu 22 Januari. Terdiri atas penerbangan dengan Garuda dan Lion Air.

Tentu saja tarifnya berlainan. Yang satu agak tinggi dan yang satu lagi agak rendah. Kami adalah kategori yang kedua. Pada tulisan terdahulu saya sudah sebutkan berapa kami membayar untuk umrah kali ini.
Kemarin, ketika kami menerima buku keberangkatan di situ kami dapat melihat beberapa hal. Pertama pesawat yang kami tumpangi. Berangkat dari Jakarta pukul 11.10 WIB dan sampai di Jeddah puku 16.45 waktu Saudi atau 20.45 WIB dan terus dengan bus ke Madinah.
Apa nama hotel dan agenda di Madinah, lalu tiga hari berikutnya ibadah dan ziarah di Madinah, dan empat hari berikutnya dengan Bus ke Mekah dan Umrah di Mekah, ibadah sepuasnya di Mekah, ziarah ke tempat-tempat penting. Lalu hari ke-9 pesiar di Jeddah dan pulang ke Jakarta. Tiba-tiba mata saya kaget melihat lembaran terakhir. Di situ ada sebuah daftar dengan susunan nama khusus. Nama saya digandengkan dengan nama seseorang yang sama sekali tidak saya kenal.

Rupanya, tanpa pemberitahuan sebelumnya, saya sudah dinyatakan sebagai mahram dari seorang perempuan. Dan hubungan saya dengannya adalah sebagai ayah dan anak.
Saya baru sadar, aturan bagi mereka yang berumrah atau berhaji ke Mekah bagi seorang perempuan usia di bawah 40 tahun yang berpergian tidak dengan keluarga dekat, harus dipasangkan dengan seorang mahram.

Isteri saya sudah terbiasa dengan keadaan begitu tiba-tiba ini. Pengalamannya ke berbagai Negara di dunia dengan saya atau dia sendiri, tidak membuatnya rikuh dan canggung.

Kami dikenalkan dengan anak kami ini. Dia adalah Dokter pada sebuah rumah sakit di Jawa Tengah. Dokter muda yang cerdas. Menguasai bahasa Inggris dan terkesan amat intelek tetapi gaul. Ini memudahkan kami menjadi ayah-ibu dan anak. Kami senang juga. Dan memang seumuran dengan anak kami yang ke-3.

Ketika saya tanya kepada biro perjalanan apa tanggung jawab saya, dengan enteng di jawab, mahram di sini rupanya hanya sebagai testimoni alias pernyataan saja untuk masuk dan keluar nanti di imigrasi Saudi.

Selebihnya urusan masing-masing. Bahkan kelas Dokter muda ini lebih tinggi dari pada kami. Tidak seperti perjalanan dinas atau undangan lain dari satu negara ke negara lain di dunia yang kami tempuh selama ini dengan kelas eksekutif atau bisnis karena dibiayai lembaga tertentu. Sekarang kami kelas standart atau silver. Dan dokter tadi di kelas Diamond (Berlian). Artinya jumlah kelas bintang hotel, bus lokal dan makannya nanti lebih bergengsi dari pada kami.

Tentu saja bayarannya lebih tinggi pula dari pada kami. Ketika saya tanya, rupanya dokter ini sudah biasa berpergian ke mancaegara. Sewaktu kuliah di fakultas kedokteran, dia sudah mengikuti program international Medical Student Association (IMSA), berminggu-minggu pada beberapa negara di Eropa. (*)

Komentar

Postingan Populer