Cucu Bandaro Saga Jantan: Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat, (Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih)





Ujian Promosi Doktor Shofwan Karim, 21 April 2008


Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat,
(Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih)
Sabtu, 31 Mei 2008
Oleh : Shofwan Karim Elha, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan

Esai (tetap) Cucu Magek Dirih (untuk mudahnya kita sebut: Cucu Magek) di Padang Ekspres Minggu, menggelitik Cucu Bandaro Saga Jantan (untuk mudah kita sebut: Cucu Saga). Oleh karena kakeknya Bandaro Saga Jantan, sebelum maut merenggut diperalihan tahun 1960-an pernah berpesan. Kalau cucu besar nanti, maka selalulah bergandengan dengan orang-orang yang mendorong kemajuan dan kebaikan. Maka tulisan Cucu Magek yang bertajuk : “Kenapa Umara/Ulama dan Dai/Mubaligh Gagal Membina Perilaku Masyarakat?”, 25 Mei lalu, menurut renungan Cucu Saga bermaksud menyadari kalangan umara, ulama, dai dan muballigh untuk ber-muhasabah (intropeksi).

Bagi Cucu Saga, intrsopeksi diri dua komponen itu saja belum cukup. Kiranya selain kalangan pemerintah (umara) dan agamawan (ulama, dai dan muballigh), perlu juga diletakkan di posisi itu ninik-mamak, bundo kandung, orang tua, politisi, pendidik, usahawan, seniman, wartawan dan para selebritis. Namun karena Cucu Magek tidak menyinggung unsur multi-elit itu, maka tulisan Cucu Saga ini harus dibatasi kepada apa yang diungkapkan Cucu Magek saja. Cucu Magek menulis :
Cucu menunjukkan kegusaran terhadap ketidakpedulian ulama/dai-mubaligh/guru agama Islam/dosen dan pakar keagamaan Islam yang seakan tidak terusik menyaksikan realitas merisaukan kehidupan beragama/perilaku keagamaan dan moral umat Islam. Cucu pula menumpahkan kemarahan terhadap semua pihak yang bertanggungjawab/penyelenggara pendidikan Islam yang dipandangnya sudah amat ketinggalan zaman/tidak merespons dan meresonansi perubahan/perkembangan/kemajuan yang berlangsung/berlari kencang dan segala hal yang terjadi di tengah masyarakat.

Kegelisahan (kemarahan?) Cucu Magek yang mengatakan kalangan umara dan ulama tidak peduli dengan realitas masyarakat perlu dipahami secara arif. Menurut Cucu Saga, justeru karena kepedulian itulah sampai sekarang mereka setia mengisi ceramah dan khutbah di masjid dan mushalla, mengajar di sekolah sejak dari TK sampai Pascasarjana dan seterusnya. Bahwa perilaku masyarakat belum berubah, ini pun harus dipertanyakan.

Menurut Cucu Saga, tentang perilaku masyakarat sekarang bila ditanyakan kepada Pemerintah Kota Padang, jawabannya pasti sudah banyak berubah kepada kebaikan. Judi, togel, dan pelacuran sudah jauh berkurang (kalau tidak berani menyebutnya habis). Wanita yang taat menutup aurat dengan busana muslimah jauh lebih merata di bandingkan masa lalu. Asma ul Husna dikumandangkan di mana-mana, bahkan Wako Fauzi Bahar menerima Piala Muri Rekor pada beberapa waktu lalu.

Angka korupsi di Sumbar tentu sudah menurun drastis, apalagi Pak Gamawan Fauzi yang pernah menerima anugrah Bung Hatta Award sebagai tokoh anti korupsi tahun 2004 telah meletakkan hal itu sebagai ikon pemerintahannya bersama Marlis Rahman. Sekarang Gamawan sudah menetapkan langkah-langkah antisipasi terhadap efek domino dari kenaikan harga BBM bersama jajaran Pemda se Sumbar pada Rakor Pemda 26 Mei lalu. Hebatnya, Cucu Magek tidak menyinggung hal yang lahiriah itu. 

Cucu Magek lebih menekankan hal-hal yang yang filosofis (bahkan abstrak) misalnya ia mengatakan:
DALAM pemahaman Cucu Magek Dirih, prilaku keberagamaan meliputi: kondisi keberimanan (perbuatan hati dan pikiran); keberibadatan/amaliyah (perbuatan hati/pikiran dan anggota tubuh); muamalah dan hubungan antarmanusia/persaudaraan terbuka — termasuk sikap terhadap orang lain (perbuatan menggunakan knowledge/teknik dan peralatan); dan hubungan manusia/kelompok manusia sebagai khalifah di muka bumi ini dengan alam/lingkungannya. Cucu Magek Dirih memandang harus selalu ada relevansi/resonansi antara keberimanan/ketaqwaan dan keberibadatan/keshalihan (amaliyah) dengan realisasi yang kelihatan pada muamalah dan hubungan antar manusia/persaudaraan terbuka — sikap terhadap diri sendiri/kelompok sendiri dan orang/kelompok lain — serta kelihatan pada pola hubungan manusia/kelompok manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan alam/lingkungannya. Kenapa lalu tidak!? Apa yang salah/keliru dilakukan secara sadar (malas) atau tidak sadar (kebodohan)!? Kenapa tidak berusaha mencari tahu di mana letak salah/keliru dan di mana kemalasan/kelalaian terjadi!?

Semua yang dielaborasi Cucu Magek pada bagian ini adalah kajian teologi agama yang sudah dibicarakan para ahli ilmu kalam. Bahwa pekerjaan hati yang baik atau iman dan seterusnya itu harus sejalan dengan perilaku lahiriah. Para kalangan Ahlus Sunnah, Asy’ari, Khawarij , Murji’ah, dan Muktazilah selalu mengajarkan kesetaraan perilaku “dalam” dengan perilaku “luar”. Artinya keshalihan spiritual harus seimbang dengan kesalihan ragawi, kesalihan individual seimbang dengan kesalihan sosial. Iman yang benar itu harus mendorong mukmin bermuamalah secara kuantitatif dan kualitatif, bekerja keras, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, rajin, pintar dan seterusnya.

Pertanyaan yang sudah klasik diulang lagi oleh Cucu Magek mengapa hal-hal ideal itu tidak ada dalam realitas ? Sepertinya Cucu Magek mengulang lagi keluhan Cendekiawan Islam Hossein Nashar 28 tahun lalu menulis: Islam dalam Idea dan Reliatas. Dan mungkin juga Cucu Magek lupa dengan adanya sinyalemen konsep teologi yang paling ringan bahwa iman manusia itu kadang-kadang bertambah, kadang-kadang berkurang tetapi dia tetap saja ia muslim dan mukmin, bukan kafir.

Pada bagian lain, Cucu Magek tiba-tiba menambah dengan ninik-mamak dan bundo kandung ikut bertanggungjab soal perilaku masyakarat ini. Dia berkata :
DALAM pencermatan Cucu Magek Dirih, realitas keberadaan dan peranan ulama/umara/ninik-mamak — dan bundo kanduang (perempuan Minangkabau) yang tagarajai, sedang yang bersangkutan tidak menyadari/tidak cukup berusaha mengetahui yang terjadi/tidak bersungguh-sungguh mencari solusi untuk mengatasi — apalagi menyusun langkah/gerakan. Masing berjalan sendiri/sama-sama bekerja — belum bekerjasama/bersinergi dengan strategi bersama dan program masing-masing dengan fokus tujuan bersama yang bertahap/kulminatif. Menurut pencermatan Cucu Magek Dirih, umara kehilangan taji — walau kekuasaan masih di bawah kaki/disandang, ulama kehilangan gezah/wibawa/kharisma —walaupun mereka masih disebut ulama, dai kehilangan pengaruh — walau organisasi/barisan makin bertambah, mubaligh kehilangan kata/kalimat — walau Alquran masih terkembang/al-hadist masih terbuka terhadap apa pun juga perubahan kehidupan yang terjadi/kemajuan ilmu pengetahuan terus berkembang di segala hal/bidang.

Dalam hal yang satu ini Cucu Magek perlu diingatkan bahwa sejak reformasi, sudah ada Perda-Perda Sosial (Orang lain yang sinis menyebutnya : Perdaya Syariat) seperti wajib pandai baca-tulis Qur’an, yang mau nikah harus pandai baca Qur’an dan Shalat, Pemberantasan Judi, dan Maksiat dan seterusnya. Sekarang ada lagi Tim yang diangkat Gubernur Gamawan untuk menyusun draf kompilasi hukum Islam dan Adat Minangkabau, yang pada waktunya dapat ditindaklanjuti menjadi Pedoman Hidup Warga Minangkanbau: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Tim ini diketuai oleh Drs. H. Muchtiar Muchtar, seorang pensiunan pamong senior dan mantan Wako Payakumbuh.

Akan tetapi Cucu Magek tentu merasa ini belum memadai. Sama dengan Cucu Saga, masih perlu gerakkan sedemikian rupa menderap dan melangkah bersama untuk mendorong masyarakat ideal yang dicita-citakan. Kalau Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam platform nya menyebut masyarakat madani (apakah sama dengan konsep Anwar Ibrahim dan Habibi ?), maka kita di Sumbar mungkin dapat belajar dengan PKS untuk membuat road-map atau blue-print masyakarat Sumbar yang ideal itu. Sepertinya Cucu Magek telah menggugah kita. Kecuali bagi orang-orang yang selalu sinis, maka esai Cucu Magek ini tentulah amat bermanfaat bukan saja untuk dibaca, tetapi juga direnungkan dan mari bersama-sama memberi kepedulian dan sepenuhnya menjadi “front-liner” dalam membina masyarakat dan ummat. (***)

Komentar

Postingan Populer